"nona, kenapa kau telihat murung ? sudaah, minumlah.. dingin takkan terasa nikmat"
celetuk salah seorang lelaki muda disudut kursi, dengan beberapa kartu remi di tangannya. sesekali menghisap sebatang rokok yang ia genggam,
namun, gadis itu masih saja terdiam, menatapi hembusan angin yang perlahan menghanyutkan aroma kopi tepat berada didepannya,
"kenapa kau masih saja melamunkan pekatnya, bukankah ia menyimpan berjuta kenikmatan yang tiada tara ?"
tambah salah seorang pemuda, dengan pakaian era 80'an sambil sesekali meneguk air oplosaan yang ia racik bersama minuman murahan berwarna lainnya,,
"aaahhhh .. kau terlalu memikirkan sesuatu. hingga nafsu hangat teruntuk kopimu kau biarkan lenyap begitu saja"
tambah pemuda yang baru saja datang,
perempuan itu tidak memperdulikan ucapan orang-orang disekitarnya. dia masih saja asik melamunkan kopi yang ada di genggaman tangganya.
sesekali menggangkat cangkir itu lalu meletakkannya kembali. tanpa mengecupnya sedikitpun. lantas ia kembali terdiam.
terus saja terdiam.. sesak dan kesakitan di dalam dirinya kembali datang, ia menyimpan dan merasakkanya sendiri tanpa membutuhkan orang-orang disekelilingnya utnuk sekedar memberikannya segelas air putih.
"tidakk.. aku tidak perlu mengatakan kesakitanku kepada siapapun"
guman perempuan itu.
dengan sekuat tenaga, ia menahan semua sakit yang menyesakkan beberapa organ tubuhnya. kemudian ia perlahan meninggalkan keramaain cafe.
setiap hentak langkah sepatunya menjadi teman setia disepanjang jallangkahnan trotoar yang ia lewati.
sunyi.. senyap.. tak ada seorangpun yang terlihat di sepanjang jalan trotoar.
sesaknya semakin menyiksa.. langkah kakinya semakin pelan .. sangat pelan.. sampai akhirnya ada sesuatu benda keras tenabrak kaki kanannya, daaaann...ia pun terjatuh,
*glodaaaaaaaakkkkkk*
"aaaahhh siaaalll .. sepagi ini aku terbangun"
ucap dina dengan tubuh sudah terlepas dari ranjang yang ia tempati.
jam dinding sudah menunjukkan pukul 7, sontak dia langsung lari menuju kamar mandi. lal ia lanjutkan mengepak ransel, sepatu tracking yang biasa ia kenakan.
sepatu tracking.. celana jeans.. ransel 32L menjadi atribut wajib untuknya setiap hari.
"im ready to go"
ia bergumam sembari memasang kacamata hitan di depan kaca.
*to be continue*
EmoticonEmoticon