tersudut dalam kegelisahan,
segala gundah, dan juga keresahan
kita hanya mampu terbelalak menatap kenyataan (hidup) yang sebenarnya
bukan, ini bukan lagi topeng kepalsuan
yang bisa setiap bisa kau gunakan untuk menyembunyikan segala macam rasa yang ada
duka, lara, dan airmata tak terlepas dari senyum tawa bahagia,
menemanimu dalam jengkal waktu yang begitu cepat berlalu
menghiburmu, menguatkan kebahagiaan yang terselip dalam tawa kecilmu
sesederhana itu,
lalu,
senyum itu merekah, menebarkan aroma semerbak yang menggetirkan hati,
semakin jelas terlepas dan sebegitu ikhlas terasa
kali ini, entah apa .. entah kenapa,,
tak ada yang mampu aku perjelas, kenapa dan ribuan alasan apa,
yang ku tahu
tiada alasan apapun untuk mrngungkap,
aku seketika terbungkam, membisukan riuhnya hujan yang samar" terdengar,
lantas menghilang
entah kenapa tiba-tiba pandangan terasa berat, mulut semakin terkunci dengan pandanganmu
mata ini berat, air mata semakin memaksa dan hatiku terus saja berbicara..
logikaku terus saja memaksaku untuk ungkapkan,
bungkam, benar-benar bungkam..
tapi airmata terus memaksa, kelopak mata kali ini berhasil menahannya,
kali ini hatiku memenangkan semua egoku,
kali ini aku kalah, hatiku memenangkannya,
bahwa aku menyayangimu tanpa alasan, tanpa ragu.. tanpa jeda..
terimakasih hujan
riuhmu tak selalu menyakitkan,
kali ini, aku berdamai denganmu
Yogyakarta, 11 Maret 2015
23:18
EmoticonEmoticon