Sepasang Ransel

Tanjakan Cinta, Semeru [ photo by : Dono Catur ]
di rimbunnya hutan belantara
sepasang ransel menjejaki tanah tandus bebatuan

perlahan sorot mata saling beradu pandang
keduanya saling menyakinkan 
 melangkahkan kaki dalam pelukan angin
menerobos setiap celah kabut 
bersama rintik hujan yang menenggelamkan langkah dalam resah

kita berpeluh bergandeng tangan
menatap kedepan, perlahan
meggenggam erat, dingin kian erat mendekap

kau dan aku
 berada di antara ratusan cahaya 
redup, tapi tidak redam
kecil, tapi menerangi berpuluh-puluh meter jalan bebatuan
mendekat merayap

sepasang ransel,
duduk bersama ribuan butir pasir menuju puncak abadi para dewa

 hembusan perlahan dari mulut ini, 
sedikit membakar dinginnya jemari 
tanpa alas, tanpa pembatas

lagi,
melangkahkan kembali kaki yang semakin enggan berdiri kokoh
tapi keyakinan kuat masih ada dalam benak

pijakan kaki seolah terhitung mundur, 
satu langkah tercapai, dua langkah terlepas

menjelang pagi, 
raga mesakin bergetar, terhimpit oleh dinginnya hembuasan angin 
semakin kuat semakin mengikat,
namun tangan ini masih menjabat erat
kau tersenyum, 

dan lagi,
sesekali menggerutu, mengeluhkan angin
kembali tersungkur

"tidak, kita memang berpeluh tapi bukan untuk mengeluh "

 keyakinan dan tekad kuat kembali mengambil alih kendali 
 kita berlabuh di puncak abadi para dewa












Previous
Next Post »