sepasang ransel menjejaki tanah tandus bebatuan
perlahan sorot mata saling beradu pandang
keduanya saling menyakinkan
melangkahkan kaki dalam pelukan angin
menerobos setiap celah kabut
bersama rintik hujan yang menenggelamkan langkah dalam resah
kita berpeluh bergandeng tangan
menatap kedepan, perlahan
meggenggam erat, dingin kian erat mendekap
kau dan aku
berada di antara ratusan cahaya
redup, tapi tidak redam
kecil, tapi menerangi berpuluh-puluh meter jalan bebatuan
mendekat merayap
sepasang ransel,
duduk bersama ribuan butir pasir menuju puncak abadi para dewa
hembusan perlahan dari mulut ini,
sedikit membakar dinginnya jemari
tanpa alas, tanpa pembatas
lagi,
melangkahkan kembali kaki yang semakin enggan berdiri kokoh
tapi keyakinan kuat masih ada dalam benak
pijakan kaki seolah terhitung mundur,
satu langkah tercapai, dua langkah terlepas
menjelang pagi,
raga mesakin bergetar, terhimpit oleh dinginnya hembuasan angin
semakin kuat semakin mengikat,
namun tangan ini masih menjabat erat
kau tersenyum,
dan lagi,
sesekali menggerutu, mengeluhkan angin
kembali tersungkur
"tidak, kita memang berpeluh tapi bukan untuk mengeluh "
keyakinan dan tekad kuat kembali mengambil alih kendali
kita berlabuh di puncak abadi para dewa

EmoticonEmoticon