Di ujung kepergian,

Siang itu, rasaku benar-benar berantakan. Aku harus mondar mandir kesana kemari untuk mengurus bebarapa tanggungjawabku di sebuah kampus yang memang sudah aku idam-idamkan 2 sejak aku menginjakan kakiku di SMK. Entah, kesakitan di beberapa bagian di kepalaku memutuskan aku untuk kembali pulang ke sebuah rumah kost yang aku tinggali. Entah apa yang ada dikepalaku, ketika hati terus mengajakku untuk terus pulang ke Jakarta, tempat dimana keluargaku tinggal. aku masih mondar-mandir di dalma kamarku. melihat begitu banyak banyak barang yang tersebat, semakin membuat kepala ini sakit. ku dekati kursi tua, tepat di depan layar komputer aku terdiam.

harus aku kemanakan diriku saat ini ?

aku masih saja terdiam, aku beranjak dari kursi tua itu lalu mengambil tas carrier yang ada diatas almari. aku aku mengambil sebuah netbook, dan beberapa obat yang seharusnya sudah aku habiskan sejak beberapa hari yang lalu. aku memasukkan barang-barang ku ke dalam carrier. tak lama berfikir, aku meninggalkan semua isi kamarku tanpa aku kunci. meninggalkan semua tanggungjawabku, sejenak.
pergi meninglakan semua rutinitas yang memang membuatku bosan, aku ingin pergi jauh.

aku ingin pergi, ketempat dimana tak seorangpun tau siapa aku

aku letakkan carrierku di bahuku, lalu aku bergegas pergi. lagi, langkah ii terhenti. aku duduk di teras rumah.
lagi-lagi aku merenung, saat itu pula aku bimbang.

haruskah aku pergi ? 

hatiku kembali menjawb, dan aku harus pergi. kudapati pesan di handphone selulerku. kudapati pesan dari temanku, memintaku jangan pergi. tpi aku hanya bisa tersenyum. baik aku akab berdiam diri disini,

ahhh.. tapi apa yang bisa aku lalukan jika aku hanya terus berdiam diri disini ? tiba-tiba salah seorang temanku datang, lalu mengantarku menuju sebuah terminal bus. aku yang enggan terjebak di hiruk pikuk perihnya kota, langsung memutuskan pergi. hingga sampailah aku di terminal.

"hati-hati dijalan" begitu temanku berkata saat aku melepas helm yang ada di kepalaku
"iya" jawabku singkat, dan di berlalu.

aku masih harus mondar-mandir, belum juga ku dapati bus yang akan menjadi tujuanku, sore itu. hari semakin malam, dan aku menemui salah seorang lelaki penjaga terminal. akhirnya beliau membantu mencari sebuah bus, dan fix dapat.

"berapa harga busnya, pak ?" tanyaku pada seorang calo bus, malam itu.
"180 untuk harga busnya" jawabnya bapak itu tegas

aku langsung beranjak mengambil uang saku yang ada di kantongku. dan ternyata, uang yang ku bawa hanyalah 150ribu. lantas aku bergegas pergi dan mencari yang lebih rendah dari harga yang ditawarkan.
sampai akhirnya dapat dengan harga 140.

bus malam itu sudah siap untuk berangkat, dan aku masih memilih untuk duduk di depan warung kecil.
lagi-lagi hanya terdiam,


aku harus pergi 
 

seorang sopir bus meminta semua penumpangnya agar masuk ke dalam bus, aku tersadar tidak lagi ada orang di sekitaru. aku langsung memasuki bus. ternyata disana hanya ada 3 orang penumpang, termasuk aku. kudapati 2 orang lelaki tus, di sana mereka menceritakan tentang harga bus yang mereka dapati tak sebnding dengan tujuan mereka. aku masih saja tak menghirau, aku langsung duduk di belakang.
tiba-tiba lelaki itu mengajakku ngobrol.  bercerita tentang anak-anak mereka. dan aku hanya bisa tersenyum medengar semua cerita kedua lelaki tua itu.

Kutatap keluar jendela bus malam itu, tiba-tiba air mata ini menetes. aku teringat sosok lelaki tua, yang dulu selalu ada menemaniku bagaimanapu keadaanku. entah, mengapa begitu deras. aku sesekali mengusap, dan kembali mendengarkan cerita asyik beliau. aku masih asyik, menatap salah satu lelaki itu yang masih saja cerita dengan tawa bahagia yang mereka bawa. entah apa yang ada difikirnku kala itu, eku melihat sosok itu seperti ayahku.suara itu.. gerak gerik mata dan gestur yang beliau bawakan.

ahhhh... lagi-lagi lamunan menjebakku. aku tersadar, bukan. itu orang lain yang sedang menghiburmu, malam itu.

iyaa.. lelaki tua itu mengingatkanku kepada sosok seorang ayah. aku tersenyum,

baik-baik disana ayah.. semoga kau tau, ribuan rindu tersimpan disini untukmu .. 

candaan lelaki tua itu semakin berlalu, bus segera berangkat. dan aku hanya bisa tersnyum, setiap kali mengingat sorot mata leaki tua tadi dengan wajah keriputnya yang selalu berjuang demi kebaikan anak-anknya.

Terima kasih, jarak mengajarkanku bagaimana merindu,

Previous
Next Post »